Tujuan Penelitian
Penelitian pada dasarnya adalah kegiatan yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah, menguji hipotesis atau menjelaskan fenomena yang terjadi.
Penelitian adalah usaha sistematik untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Penelitian dapat menghasilkan abstrak dan jawaban-jawaban umum dan juga dapat memberikan jawaban yang kongkrit dan spesifik, tergantung dari demonstrasi atau penerapan penelitian (Tuckman, 1999)
Dalam dunia pendidikan, penerapan dalam penelitian digunakan untuk meninjau latihan-latihan dalam proses belajar-mengajar, mempelajari proses belajar murid, mengevaluasi kurikulum dan program-program di sekolah, dan membuat rekomendasi untuk perubahan kebijakan dan sistem pada tingkat lokal dan nasional. Pada awal 1940, Kurt Lewin menggagas teori ‘action research’ yang kemudian berkembang menjadi teori perputaran ‘perencanaan, -tindakan-tinjauan-refleksi’. Teori ini kerap digunakan oleh para guru dan pemegang saham untuk mengumpulkan informasi dalam proses belajar mengajar di sekolah sebagai kelangsungan dan perbaikan mutu sekolah. Penelitian bimbingan konseling di sekolah adalah proses ilmiah untuk mengungkapkan atau menjelaskan tentang bagaimana dan mengapa orang-orang lakukan, rasakan dan pikirkan di dalam kelas dan di kegiatan belajar yang lain.
Metode Penelitian
Metode penelitian secara lazim dibedakan kedalam dua cara, kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan survei ataupun cara yang lain untuk mengumpulkan data dan pengukuran numerik untuk mengusut hubungan antara variabel atau perbedaan dalam suatu kelompok . sementara itu, penelitian kualitatif menggunakan observasi dan juga pendekatan secara naratif deskriptif untuk mengumpulkan informasi agar dapat menyimpulkan sebuah fenomena yang terjadi dan mencari arti dibalik itu semua.
Terkadang batas antara kedua metode tersebut memang kabur atau remang-remang. Tetapi pada penerapannya, kedua metode tersebut malah saling melengkapin ketimbang bertentangan. Penelitian menunjukkan bahwa dalam praktek pedagogik dan konseling, penggunaan kedua metode tersebut dalam suatu penelitian memberikan data yang valid dan lebih berarti. Hal ini yang mungkin membuat para peneliti lebih memilih untuk menggabungkan kedua metode penelitian tersebut untuk memastikan kualitas dan ketetapan dalam suatu penelitian. Metode penelitian yang banyak digunakan dalam pendidikan dan bimbingan konseling adalah studi kasus dan eksperimen semu (quasi-experimenal). Berikut ini adalah contoh cara penelitian yang sering digunakan dalam metode penelitian :
Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif menggunakan metode pendekatan untuk menjelaskan data baik dari metode kualitatif atau kuantitatif metode kuantitatif biasanya berdasarkan analisis statistik data yang dikumpulkan dari berbagai jenis variabel. Sebaliknya, metode kualitatif terdiri dari catatan wawancara, tulisan naratif, dan rekaman dari diskusi kelompok.
Penelitian Korelasi
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antar variabel yang mencangkup perhitungan dari koofisien korelasi. Korelasi positif terjadi jika antara dua variabel atau lebih berjalan paralel atau searah yang berarti jika variabel X mengalami kenaikan maka variabel Y juga mengalami kenaikan. Sementara itu, korelasi negatif adalah korelasi antara dua variabel atau lebih yang berjalan dengan atuk meneliti hubungan antar variabel yang mencangkup perhitungan dari koofisien korelasi. Korelasi positif terjadi jika antara dua variabel atau lebih berjalan paralel atau searah yang berarti jika variabel X mengalami kenaikan maka variabel Y juga mengalami kenaikan. Sementara itu, korelasi negatif adalah korelasi antara dua variabel atau lebih yang berjalan dengan arah yang saling berlawanan, bertentangan atau sebaliknya. Contohnya, penelitian di suatu sekolah menunjukkan adanya korelasi positif antara nilai akademik siswa dan kepercayaan diri mereka dan korelasi negatif antara nilai akademik mereka dengan ketidakhadiran di kelas.
Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and Effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan.
Proses Penelitian
Berikut ini adalah cara-cara yang digunakan dalam proses penelitian:
1. Menentukan topik yang akan dibahas. biasanya setelah penentuan topik, yang dilakukan selanjutnya adalah mengutarakan masalah penelitian, tujuan penelitian, dan hipotesis.
2. Setelah menentukan topik yang akan dibahas, tahap berikutnya adalah tinjauan pustaka, wilayah penelitian, memilih metode pengumpulan data dan analisis, merancang atau memilih instrumen atau alat untuk mengumpulkan data, menyusun jadwal penelitian dan anggaran, dan membentuk tim atau panitia jika memungkinkan.
3. Tahap ketiga meliputi perencanaan untuk melakukan penelitian, memperoleh ijin untuk melakukan penelitian, dan yang terakhir melakukan survei, wawancara, penelitian kasus dan sebagainya.
4. Tahap yang terakhir adalah mengolah data yang telah diperoleh dari berbagai sumber kedalam tulisan atau laporan penelitian.
Masalah Penelitian
Memilih dan menetapkan masalah penelitian yang tepat adalah awal yang baik dalam penelitian. Penelitian tesis yang baik memiliki 10 karakteristik seperti yang dikatakan oleh Anderson dan Asernault (1998):
Dinyatakan secara jelas dan ringkas
Memiliki pertanyaan penelitian (research question)
Memiliki landasan teori
Memiliki hubungan dengan satu atau lebih bidang studi akademik
Mempunyai dasar dalam kajian pustaka
Memiliki potensi yang berarti atau kepentingan
Penelitian dapat dilakukan dalam kurun waktu tertentu dan anggaran dana yang telah ditentukan
Peneliti memiliki daya metodologi untuk diterapkan kedalam permasalahan
Masalah tersebut adalah masalah baru dan belum dapat dijawab secara jelas atau cukup
Masalah penelitian dalam bimbingan dan konseling biasanya berkisar antara kebutuhan para siswa dalam pembelajaran atau aspek-aspek disekitar perkembangan dan kemajuan siswa. Aspek-aspek tersebut misalnya, prestasi siswa, kesulitan dalam belajar, suasana kelas dan masalah kedisiplina serta perilaku.
Pertanyaan Penelitian dan Hipotesis
Setelah masalah penelitian teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah untuk merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis. Tidak semua studi membutuhkan pengujian hipotesis terutama studi yang menggunakan metode kualitatif seperti observasi naturalistik dan studi kasus. hipotesis atau hipotesa adalah harapan tentang suatu peristiwa/penelitian berdasarkan generalisasi dari hubungan antar variabel dan biasanya berhubungan dengan pertanyaan penelitian.
Tinjauan Pustaka
Ada banyak sekali informasi yang dibutuhkan para peneliti dalam melakukan penelitiannya. Tempat pertama yang terlintas dalam benak para peneliti untuk mencari informasi dan kajian pustaka adalah perpustakaan. Perpustakaan yang baik memiliki banyak sekali koleksi buku-buku, majalah dan disertasi dari berbagai jenis disiplin ilmu. Cara lain yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi adalah dengan cara berselancar di internet ke database online seperti Amerika Serikat ERIC (Education Resources and Information Center). ERIC menyediakan referensi-referensi dan sumber untuk para pembimbing dan para siswa.
Tinjauan pustaka adalah bagian integral dalam sebuah studi terutama bagi penelitian akademik dan tesis. Tinjauan pustaka menggambarkan kualitas sebuah penelitian dan kompetensi sang peneliti. Tinjauan pustaka harus mencangkup pustaka lokal dan asing yang berhubungan dengan penelitian yang sedang dilakukan. Setelah mendapatkan informasi yang relevan, langkah selanjutnya adalah mencatat dan merekam informasi tersebut secara teratur dan sistematis.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan cara observasi dan pengukuran. Dalam penelitian pendidikan, cara yang biasa digunakan adalah dengan melakukan survey dan wawancara menggunakan alat pengukuran (instrument) seperti kuesioner dan tes. Fokus group discussion dan studi kasus dapat digunakan untuk memperoleh yang lebih akurat tentang opini pribadi atau perasaan dari subjek terhadap sampel. Triangulasi dengan menggunakan banyak sumber dan metode pengumpulan data dapat digunakan pada studi untuk membantu menghilangkan bias dan error.
Metode survei paling banyak digunakan dalam penelitian kuantitatif sedangkan observasi naturalistik, studi kasus, wawancara, dan focus group discussion sering digunakan dalam penelitian kualitatif, tetapi wawancara dan focus group discussion kerap digunakan dalam penelitian kuantitatif jika ukuran sampel cukup besar untuk analisis statistik.
Survei
Survei adalah satu bentuk teknik penelitian yang paling efisien dimana, informasi dikumpulkan dari sejumlah sampel berupa orang melalui pertanyaan-pertanyaan; survey sangat berguna bagi penelitian yang memiliki banyak sampel.
Wawancara
Wawancara tatap muka merupakan cara untuk menguji tanggapan responden dengan bertemu muka atau berhadapan langsung. Metode ini membutuhkan latihan dari perilaku wawancara dan membutuhkan perencanaan yang matang dalam mengajukan pertanyaan.
Focus Group Discussion
FGD adalah diskusi terfokus dari suatu Group untuk membahas suatu masalah tertentu, dalam suasana informal dan santai. Jumlah pesertanya bervariasi antara 8-12 orang, dilaksanakan dengan panduan seorang moderator. Jika dilakukan dengan benar, FGD dapat memberikan informasi yang akurat baik bagi penelitian kualitatif maupun kuantitatif.
Pengamatan Langsung
Pengamatan langsung atau pengamatan naturalistik dari perilaku adalah cara yang sangat bernilai dan menantang dalam pengumpulan data. Cara ini sering digunakan peneliti dalam mengamati perkembangan belajar anak, perbandingan lintas budaya, etnografi, dan penelitian sosial lainnya. Penelitian ini membutuhkan energi dan waktu yang tidak sedikit. Selain itu, peneliti perlu untuk memastikan apa yang perlu diamati, bagaimana caranya dan menilai ke-valid-an data tersebut.
Studi Kasus
Studi kasus melakukan pemeriksaan longitudinal yang mendalam terhadap suatu keadaan atau kejadian yang disebut sebagai kasus contohnya adalah kelakuan menyimpang dari siswa pada mata pelajaran tertentu. Dalam konseling, metode ini digunakan untuk meneliti masalah, factor yang mempengaruhinya, proses penyelesaian dan hasil dari “masalah” tersebut.
Statistik Dasar
Pada ilmu sosial, statistik digunakan sebagai alat untuk mengukur, menyederhanakan, dan menginterpretasikan data yang telah terkumpul dari studi kuantitatif. Peneliti perlu menguasai teknik statistik untuk menampilkan analisis statistic untuk kemudian ditampilkan sebagai laporan penelitian. Pengukuran dalam statistik adalah cara untuk mengukur data dalam suatu penelitian. Berikut ini adalah empat tingkatan atau skala yang digunakan dalam statistic:
Skala Nominal – pengukuran dengan skala nominal merupakan tingkat mengkategorikan, memberi nama dan menghitung fakta-fakta dari objek yang diteliti. Dimana angka yang diberikan pada objek hanya mempunyai arti sebagai label saja dan tidak menunjukkan tingkatan yang berarti. Contoh: mengkategorikan pria dan wanita.
Skala Ordinal – skala yang merupakan tingkat ukuran kedua, yang berjenjang sesuatu yang menjadi ‘lebih’ atau ‘kurang’ dari yang lainnya. Ukuran ini digunakan untuk mengurutkan objek dari yang terendah hingga tertinggi dan sebaliknya yang berarti peneliti sudah melakukan pengukuran terhadap variabel yang diteliti. Contoh: mengukur kejuaraan olah raga, prestasi kerja.
Skala Interval – memiliki tingkatan dengan interval atau jarak tertentu yang tetap, tetapi data ini tidak memiliki titik nol mutlak. Misalnya, Temperatur suatu zat cair dikatakan sebagai ‘sangat panas’ bila suhunya antara 100-119 derajat Celsius, ‘panas’ bila suhunya antara 80-90 derajat Celsius, ‘cukup panas’ bila suhunya antara 60-79 derajat Celsius dan ‘kurang panas’ bila suhunya antara 40-59 derajat Celsius. Karena tidak mempunyai nilai nol mutlak maka bila suhu zat cair tersebut nol derajat Celsius, bukan berarti bahwa zat cair tersebut tidak mempunyai panas/suhu.
Skala Rasio – data rasio merupakan data berupa angka dalam arti sebenarnya, dapat dilakukan dengan operasi matematika (penjumlahan, pengurangan, perkalian atau pembagian) dan mempunyai titik nol dalam arti sesungguhnya. Contoh penerapan: dalam pengukuran tinggi dan berat benda, jumlah produksi, jumlah murid. Misalnya jumlah murid yang hadir di suatu kursus kursus bahasa inggris pada hari senin sebanayak 20 murid, hari selasa sebanyak 10 murid, dan Rabu sebanyak 0 murid. Pada hari Rab dikatakan yang hadir sebanyak nol murid, karena tidak ada murid yang hadir pada hari tersebut. Selain itu jenis data ini memiliki sifat rasio, dalam contoh di atas, jumlah murid yang hadir pada hari senin sebanyak 2 kali jumlah murid yang hadir pada hari selasa, dst.
Statistika Deskriptif
Statistika deskriptif adalah prosedur statistical untuk menyederhanakan, menyusun dan meringkas data. Data yang telah terkumpul tersebut masih mentah dan tak berarti apa-apa sehingga perlu diolah . peneliti dapat menggunakan tabel, gambar, ukuran pemusatan dan variabilitas dalam penyajiannya.
Ukuran Pemusatan
Salah satu aspek yang paling penting untuk menggambarkan distribusi data adalah nilai pusat pengamatan (tendensi sentral). Setiap pengukuran aritamatika yang ditujukkan untuk menggambarkan suatu nilai yang mewakili nilai pusat atau nilai sentral dari suatu gugus data (himpunan pengamatan) dikenal sebagai ukuran tendensi sentral. Ada tiga ukuran tendensi sentral yang sering digunakan:
1, Mean – mean dihitung degan menjumlahkan semua nilai data pengamatan kemudian dibagi dengan jumlah data atau banyaknya data.
2. MJedian – nilai pengamatan yang terletak ditengah gugus data setelah data tersebut diurutkan. Apabila banyaknya pengamatan (n) ganjil, median terletak tepat di tengah gugus data,l sedangkan bila n genap, median diperoleh dengan cara interpolasi yaitu rata-rata dari kedua data yang berada di tengah gugus data.
3. Mode – Data yang paling sering muncul, atau data yang mempunyai frekuensi terbesar. Jika semua data mempunyai frekuensi yang sama berarti data-data tersebut tidak memiliki modus, tetapi jika terdapat dua yang mempunyai frekuensi tersebut maka data-data tersebut memiliki dua buah modus, dan seterusnya.
Variabilitas
Variabilitas menyajikan pengukuran kuantitatif menganai derajat seberapa tersebar atau seberapa terkumpulnya skor-skor yang ada di dalam suatu distribusi.
Standar Deviasi
Standar deviasi adalah perhitungan yang mengutamakan deskripsi dalam variabel, bagaimana penyebaran skor dalam distribusi. Standar deviasi mendeskripsikan variabilitas perhitungan jarak dari rata-rata.
Statistik Inferensial
Pada studi penelitian, bukan tidak mungkin mengukur semua kasus dalam satu populasi. Tetapi pada penerapannya, hanya sampel yang terpilih akan diukur. Pada konseling misalnya, pendekatan konseling tertentu yang digunakan untuk membantu sampel yang berupa remaja dalam manajemen kemarahan (anger management). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari apakah pendekatan konseling bias digunakan untuk membantu semu remaja mengatasi kemarahan secara efektif. Selanjutnya, kita perlu melakukan prosedur statistik untuk mempelajari data yang telah terkumpul dari sampel tersebut, lalu membuat pernyataan umum tentang populas. Statistik inferensial adalah prosedur statistic yang dipakai untuk membuat generalisasi tentang populasi berdasarkan hasil yang diperoleh dari sampel.
Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis adalah prosedur yang kerap digunakan pada statistik inferensial. Hipotesis adalah pernyataan hubungan antara dua variabel atau lebih. Pada inferensial statistik, kita membuat kesimpulan hubungan antar variabel dari populasi yang belum diukur dan berdasarkan pada data yang dikumpulkan dari sampel. Prosedur-prosedur yang berbeda jenis digunakan untuk memenuhi pengujian hipotesis dan menjawab pertanyaan penelitian.
Uji-t Untuk Sampel Bebas
Uji-t sampel independen (bebas) adlah metode yang digunakan untuk menguji kesamaan rat-rata dari dua popilasi yang bersifat independen, dimana peneliti tidak memiliki informasi mengenai ragam populasi. Independen maksudnya adalah bahwa populasi yang satu tidak dipengaruhi atau tidak berhubungan dengan populasi yang lain. Barangkali, kondisi dimana peneliti tidak memiliki informasi mengenai ragam populasi merupakan kondisi yang paling sering dijumpai di kehidupan nyata. Contoh dalam bimbingan konseling, membandingkan kepercayaan diri dari antara siswa laki-laki dan perempuan.
Uji-t Berpasangan (paired t-test)
Uji-t berpasangan (paired t-test) adalah salah satu metode pengujian hipotesis dimana data yang digunakan tidak bebas (berpasangan). Cirri-ciri yang paling sering ditemui pada kasus yang berpasangan adalah satu individu (objek penelitian) dikenai dua buah perlakuan yang berbeda. Walaupun menggunakan individu yang sama, peneliti tetap memiliki dua macam data sampel yaitu data dari perlakuan pertama dan data dari perlakuan kedua. Perlakuan pertama mungkin saja berupa kontrol, yaitu tidak memberikan perlakuan sama sekali terhadap objek penelitian. Misalnya didalam bimbingan konseling, membandingkan tingkat kegelisahan dalam sebuah group yang terdiri dari para siswa sebelum dan sesudah menghadiri seminar manajemen kemarahan.
Korelasi
Korelasi adalah salah satu teknik statistik yang digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel atau lebih. Misalnya, hubungan antara nilai matematika siswa dengan tes di ilmu eksak atau hubungan antara kepercayaan diri para siswa dengan kemampuan akademik mereka. Hubungan antara kedua variabel tersebut bias saja positif dan negative. Korelasi positif adalah hubungan yang sifatnya searah. Korelasi positif terjadi jika antara dua variable atau lebih berjalan parallel atau searah yang berarti jika variabel X mengalami kenaikan maka variabel Y juga mengalamim kenaikan. Sedangkan korelasi negative adalah korelasi antara dua variabel atau lebih yang berjalan dengan arah yang tak bersamaan atau berlawanan, bertentangan atau sebaliknya. Korelasi negative terjadi jika antara dua variabel atau lebih berjalan berlawanan yang berarti jika variabel X mengalami kenaikan maka variabel Y mengalami penurunan atau sebaliknya.
Etika Penelitian
Peneliti dalam melaksanakan seluruh kegiatan penelelitian harus memegang teguh sikap ilmiah serta menggunakan prinsip-prinsip etika penelitian. Ada empat tahap yang perlu dipertimbangkan peneliti, dan kesmuanya harus dilakukan oleh peneliti dalam melakukan penelitiannya. Prinsip pertama, peneliti perlu mempertimbangkan hak-hak subyek untuk mendapatkan informasi yang terbuka berkaitan dengan jalannya peneltian serta memiliki kebebasan menentukan pilihan dan bebas dari paksaan untuk berpartisipasi dalam kegiatan penelitian. Prinsip kedua, setiap manusia memiliki hak-hak dasar individu termasuk privasi dan kebebasan individu. Pada dasarnya penelitian akan memberikan akibast terbukanya informas individu termasuk informasi yang bersifat pribadi. Sedangkan, tidak semu orang menginginkan informasinya diketahui oleh orang lain, sehingga peneliti perlu memperhatikan hal-hak dasar individu tersebut. Dalam aplikasinya, peneliti tidak boleh menampilkan informasi mengenai identitas baik nama maupun alamat asal subjek dalam kuesioner dan alat ukur apapun untuk menjaga anonimitas dan kerahasiaan identitas subjek. Peneliti dapat menggunakan koding (inisial atau identification number) sebagai pengganti identitas responden. Prinsip ketiga, prinsip keadilan memiliki konotasi keterbukaan dan adil. Untuk memenuhi prinsip keterbukaan, penelitian dilakukan secara jujur, hati-hati, professional, berperikemanusiaan, dan memperhatikan factor-faktor ketepatan, keseksamaan, kecermatan, intimitas, psikologis serta perasaan religious subjek penelitian. Sebagai contoh dalam prosedur penelitian, peneliti mempertimbangkan aspek keadilan gender dan hak subjek untuk mendapatkan perlakuan yang sama baik sebelum, selama maupun sesudah berpartisipasi dalam penelitian. Prinsip keempat, peneliti melaksanakan penelitian sesuai dengan prosedur penelitian guna mendapatkan hasil yang bermanfaat maksimal mungkin bagi subyek penelitian dan dapat digeneralisasikan di tingkat populasi.
Studi Lokal dalam Bimbingan dan Konseling
Pengenalan bimbingan dan konseling di sekolah-sekolah di Singapura terjadi sekitar 30m tahun yang lalu ditandai dengan berdirinya Guidance Clinic and A Remedial Reading Clinic pada tahun 1974. Tujuan didirikannya klinik ini ada dua; untuk menunjukkan bagaimana bimbingan konseling dapat membantu murid dalam pelajaran dan masalah emosional. Dan sebagai eksperimen untuk menambah latihan melalui penelitian. Staf dari kedua klinik tersebut secara rutin mengunjungi sekolah-sekolah untuk mengadakan bimbingan sekolah dan kegiatan konseling. Di klinik, mereka bereksperimen dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang inovatif seperti perubahan perilaku anak-anak dan kelompok konseling dan remaja dengan masalah social dan emosionalnya.
Proyek Terkini
Dr. Sim Wong Kooi dan Dr Esther Tan membentuk sebuah Tim penelitian pada akhir tahun 80 an yang diberi nama Institute of Education. Salah satu penelitiannya yang terkenal adalah tentang perkembangan kognitif dan psikososial remaja. Penelitian ini menyelidiki tentang perkembangan kognitif remaja dalam hal kemampuan berbahasa dan konsep matematika.
Education For ALL
Rabu, 09 November 2011
Rabu, 26 Oktober 2011
Ilmu Pengetahuan Tanpa Iman, Bagaimana Jadinya?
Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi terhadap dunia ini seandainya tidak ada orang pintar, tidak ada orang yang memiliki ilmu pengetahuan, dan tidak ada penemuan di bidang teknologi. Semuanya serba alami, seperti sediakala ketika Allah menciptakan dunia ini. Tidak ada sekolah dan tidak ada orang yang ingin sekolah. Kira-kira apa yang akan terjadi dengan dunia ciptaan Allah yang mulia ini?
Sebaliknya, apa yang terjadi dengan dunia ini seandainya hanya dipenuhi dengan para ilmuwan, para penemu di bidang tekhnologi, sementara mereka tidak kenal Tuhan? Mereka tidak mengakui adanya Allah, Pencipta dunia ini dengan segala isinya. Mereka berkata bahwa dunia ini terjadi secara spontan dan sebagai hasil "evolusi". Mereka juga menyetujui teori evolusi, yang diprakarsai Charles Darwin. Mereka tidak mengakui mujizat dan semua tanda-tanda ajaib yang dikerjakan Allah dalam sepanjang sejarah kehidupan.
Seandainya demikian, bayangkan apa yang akan menimpa planet bumi ini? Kemungkinan besar, dunia ini akan diisi dengan para Ilmuwan pengkhianat Allah. Akan muncul para Ilmuwan "jahat" yang setiap saat menyakiti Penciptanya.
Apa pula yang akan terjadi, seandainya dunia ini hanya diisi oleh orang-orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan, tetapi tidak punya pengetahuan dan tidak mau mengikuti perkembangan zaman, tidak tahu membaca dan menulis, sebab bagi mereka belajar seperti itu hanyalah melelahkan badan dan tiada artinya? Apa yang akan terjadi bila orang-orang menutup diri dengan dunia di sekitarnya dan hanya memikirkan hal-hal yang berhubungan surga? Mereka tidak mau peduli dengan lingkungannya, yang penting adalah memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan surga. Mereka lupa daratan dan berpikir seolah-olah mereka sudah di surga.
Coba Anda tenang sejenak, dan renungkanlah kira-kira apa yang akan terjadi seandainya keadaan kita seperti itu.
Kondisi semacam ini, mengajak kita untuk memikirkan lebih dalam, bahkan ada hubungan yang erat antara Iman dan Ilmu Pengetahuan. Allah memang bercita-cita agar semua manusia ciptaanNya tetap beriman kepadaNya. Di dalam diri Allah terpancar satu kerinduan agar manusia tetap mengakui Dia sebagai Pencipta, Tuhan dan Juruselamat.
Bagamana dengan ilmu pengetahuan? Apakah Allah benci dengan ilmu pengetahuan? Hal ini perlu dipahami lebih dulu sebelum kita melangkah lebih jauh untuk membahasnya.
Allah Pencipta Ilmu Pengetahuan
Sejak awalnya, Allah mencipta manusia segambar dengan Dia, yang sering disebut "Imago Dei". Kesegambaran (citra) manusia dengan Allah terlihat dalam tingkat intelektual yang diberikan oleh Pencipta itu sendiri, dan tidak dimiliki oleh ciptaan lain. Allah melengkapi manusia dengan pikiran-pikiran jernih yang mampu melihat kebesaran dan keagunan karya Pencipanya. Dari pikiran yang jernih inilah, timbul berbagai ide yang menghasilkan penemuan-penemuan di bidang teknologi. Allah menciptakan otak yang begitu cerdas dan tajam untuk mendapatkan dan menemukan sesuatu.
Dari sini terlihat sangat jelas, bahkan Allah sangat senang dengan ilmu pengetahuan, karena ilmu itu sendiri bersumber dari Dia. Allah memberikan mandat kepada manusia agar dapat mengembangkan ilmu bagi kemuliaanNya.
Di sinilah letak permasalahan yang harus diperhatikan dengan baik. Ada para ilmuwan, para sarjana yang tidak menggunakan ilmu pengetahuan yang diberikan itu untuk kemuliaanNya. Ilmu yang diberikanNya tidak digunakan secara bertanggung jawab dan proporsional. Pikiran dan ide yang diberikanNya digunakan untuk merusak.
Pada dasarnya ilmu pengetahuan bersifat relatif. Relatif, maksudnya tergantung oknum yang menggunakannya. Kalau digunakan untuk maksud baik dan berguna maka Allah sangat menyenanginya. Segala sesuatu Tuhan berikan dengan maksud membawa keagungan bagi Sang Pencipta.
Sarjana, Ilmuwan Kristen dan Pergumulannya.
Bagaimanakah para Ilmuwan Kristen menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat? Bagaimana para Ilmuwan Kristen bersikap terhadap para Ilmuwan lain yang menolak intervensi Allah di dalam segala penemuan mereka, dan berpendapat bahwa Allah itu tidak ada? Bagaimana sesungguhnya kriteria seorang sarjana yang berbobot, baik secara imani, maupun secara akademis?
Prof. Dr. Stanley Health dalam bukunya "Sains, Iman dan Teknologi" berpendapat bahwa seorang ilmuwan yang berbobot harus memenuhi dua kriteria pemikiran penting. Yang pertama, pemikiran yang imani, dan yang kedua, harus memiliki kemampuan akademis yang kuat dan ilmiah. Secara imani, seorang sarjana yang berbobot harus mengakui kedaulatan dan kemahakuaaan Tuhan sebagai Pencipta. Dia juga harus mengakui bahwa Alkitab dan segala sesuatu yang tertulis di dalamnya adalah firman Allah tanpa salah. Dia harus mengakui, bahwa semua data yang tertulis dalam Alkitab benar dan akurat dan data itu tidak dapat disangkal secara ilmiah.
Selain itu juga seorang sarjana yang berbobot harus memiliki tingkat intelektual yang tinggi, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Lebih lanjut, pendiri Institut Alkitab Tiranus (IAT), Bandung ini berpendapat, "Apa saja yang bertentangan dengan Alkitab pasti salah. Meskipun banyak sarjana mengganggapnya benar". Dengan tegas lagi, Doktor dalam tiga bidang disiplin ilmu ini (Teknologi, Penggembalaan dan Teologi), menyatakan bahwa "seorang Kristen (ilmuwan) yang mengabaikan Alkitab dalam aktivitas ilmiahnya tidak dapat dibenarkan dari sudut kesarjanaan atau pun dari sudut kepercayaan". Jelas di sini, bahwa Ilmuwan Kristen tidak boleh mengabaikan firman Allah dalam setiap aktivitas ilmiah apapun yang dilakukannya. Dia harus menunjukkan loyalitasnya terhadap otoritas Alkitab sebagai firman Allah yang hidup dan menghidupkan.
Konflik batin yang sangat serius akan melanda Ilmuwan yang tidak mengakui dan tidak memasukkan data Ilmu pengetahuan yang terdapat dalam Alkitab. Mengapa? Karena data yang terdapat dalam Kitab Suci bersumber dari Allah sendiri, yang tidak dapat disangkal kebenarannya. Sumber segala ilmu pengetahuan sejati adalah dari Allah, yang dituangkan melalui pewahyuan kekal yang sekarang ini didapatkan di dalam Alkitab.
Allah Tidak Mau Dicelehkan
Persoalan yang timbul ketika Allah memberikan pemikiran yang cemerlang kepada manusia adalah, manusia seringkali sombong dan tidak tahu diri. Allah diabaikan bahkan dimasukkan ke dalam "kota" dan Allah tidak diizinkan untuk intervensi.
Kejadian pasal 11 salah satu bukti nyata, yang menunjukkan bahwa manusia lupa diri dan mengganggap dirinya sebagai Allah. Manusia merencanakan untuk mengkhianatiNya dengan segala tindakan yang sungguh menyakiti hatiNya. Manusia mendirikan menara Babel yang tingginya sampai ke langit, guna menyamai Allah. Tujuan akhir dari semuanya itu, yakni manusia ingin mencuri kemuliaan Allah. Allah yang seharusnya mendapat kemuliaan tersebut, tetapi manusia itu sendiri berusaha menyaingiNya agar kemuliaan itu menjadi miliknya.
Kesombongan mendorong manusia untuk menjadi seperti Allah baik dalam pikiran maupun tidakannya. Manusia seringkali tidak mau menerima kenyataan bahwa dia adalah ciptaan yang harus tunduk kepada kemahakuasaan penciptanya. Manakala perasaan itu timbul seorang Ilmuwan Kristen, seorang sarjan Kristen harus berhati-hati, supaya Tuhan tidak disakiti dengan keputusan-keputusan yang tidak bertanggung jawab. Sifat kesombongan hanyalah sebuah permainan setan untuk menipu manusia agar mereka tidak menghormati dan menghargai Allahnya.
Teologia dan Ilmu Pengetahuan
Hal yang sangat penting dan serius untuk dipahami adalah bagaimana teologia Kristen memandang ilmu pengetahuan? Apa kata Alkitab tentang ilmu pengetahuan dan bagaimana ilmu pengetahuan yang sejati didapatkan oleh orang percaya?
Pada dasarnya teologi Kristen menerima kehadiran ilmu pengetahuan dan pembangunannya. Prinsipnya, ilmu pengetahuan diciptakan Allah sendiri. Alkitab menjelaskan, bahwa "takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan" - Amsal 1:7. Dengan jelas disebutkan bahwa mengenal Tuhan dengan benar, takut akan Tuhan adalah permulaan segala ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang sejati dan benar terjadi apabila ada keseimbangan antara Iman dan Ilmu Pengetahuan. Iman kepada Allah Sang Pencipta tidak boleh digeser dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan boleh maju tetapi Tuhan tetap pada posisi sebagai Tuhan. Tuhan adalah Tuhan yang layak di-Tuhankan, sedangkan ilmu pengetahuan tidak punya kekuatan untuk menyelesaikan persoalan manusia yang mendasar dan hakiki.
Contoh, kemajuan ilmu kedokteran yang telah canggih sekalipun terbatas untuk menangani kasus-kasus penyakit yang sulit untuk ditemukan diagnosis dan obatnya. Penyakit AIDS belum tuntas, muncullah SARS yang juga belum ditemukan secara ilmiah cara pengobatannya.
Tetapi, seringkali penyakit seperti itu disembuhkan dengan ajaib melalui doa yang dipanjatkan dalam Nama Tuhan Yesus Kristus. Kesembuhan Ilahi masih berlaku hingga hari ini. Sebagai rohaniwan, berulang kali menyaksikan keajaiban terjadi tatkala orang beriman berseru kepada Tuhan.
Persoalan-persoalan kehidupan yang berat sekalipun dapat diatasi bersama-sama dengan Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan punyai kekuatan maha dahsyat yang melebihi kekuatan dan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih sekalipun.
Dari pemahaman ini, kita diajak untuk memikirkan kembali hubungan yang begitu erat antara ilmu pengetahuan dengan iman yang ditujukan kepada Tuhan kita, Yesus Kristus.
Selasa, 04 Oktober 2011
INTISARI
PENGARUH INOKULASI BAKTERI Rhizobium japanicum TERHADAP PERTUMBUHAN KACANG KEDELAI (Glycine max L)
Raymond A.B. Sopacua
Tujuan dari penelitian ini yaitu Untuk Mengetahui Pengaruh inokulasi Bakteri Rhizobium Terhadap Pertumbuhan Kacang Kedelai dan Konsentrasi inokulasi Bakteri Rhizobium yang paling berpengaruh Terhadap Pertumbuhan Kacang Kedelai. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian adalah Rhizobin, benih kacang kedelai, gula pasir, dan tanah. Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan, dimulai dari tanggal 24 Agustus 2010 sampai dengan 24 September 2010.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari satu faktor, yaitu banyaknya inokulasi Rhizobium, dengan konsentrasi: A0 = Kontrol/tanpa inokulasi Bakteri Rhizobium, A1 = Konsentrasi 3 gr, A2 = Konsentrasi 5 gr, dan A3 = Konsentrasi 7 gr. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varians dan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur pada taraf alfa 0,5 % dan 0,1 %.
Hasil penelitian menunjukan bahwa, pemberian perlakuan inokulasi bakteri memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah bintil akar kacang kedelai, yang diperoleh pada perlakuan A3 = Konsentrasi inokulasi Rhizobium 7 gr. Sedangkan, perlakuan inokulasi bakteri meningkatkan diameter batang kacang kedelai, tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap diameter batang kacang kedelai.
Kata kunci : Inokulasi, Bakteri Rhizobium, Pertumbuhan, dan Kacang Kedelai (Glycine max L.)
Langganan:
Postingan (Atom)